LensaMerauke.com – Siang itu, hari Sabtu sekitar pukul 3 sore waktu Indonesia Timur menjadi awal pertemuan saya dengan seorang pemuda penyandang disabilitas di Merauke, Papua selatan.
Dian Franklin De Fretes, adalah lengkap seorang pemuda disabilitas daksa yang akrab dengan sapaan Dian.
Sebelumnya, saya merasa pernah bertemu dengan Dian, namun kala itu belum terpikir untuk mengenal Dian sedikit lebih dalam.
Namun, pada 21 oktober berkat informasi dari teman di sebuah Lembaga lingkungan di Merauke saya tertarik untuk mendengar dan melihat lebih dekat.
Waktu itu akhir pekan, kami janjian siang itu, di rumahnya, tepatnya kami bertemu langsung di halaman samping rumahnya tepatnya dibawah pohon manga yang rimbun.
Kebetulan saat itu, Dian sedang mengerjakan tugas akhirnya untuk meraih gelar sarjana di sebuah Universitas Negeri di Merauke. Teman saya yang telah tiba lebih dulu memperkenalkan saya dengan Dian dan Ibunya bernama Maria Metekohy De Fretes.
Setelah berkenalan, kami sedikit berbasa-basi dan saya mulai bertanya kepada dia yang saat itu masih berada di depan laptopnya diatas sebuah meja kayu kira kira lebarnya 1,5 meter dengan panjar sekitar 3 meter.
Sebelum mengajukan beberapa pertanyaan sesuai tujuan kedatangan saya untuk melakukan wawancara dengan Dian, saya menyempatkan untuk memperhatikan aktivitas yang dilakukan dengan Dian, mengerjakan tugas akhirnya.
Dengan gerakan lambat, masing masing satu jari di tangan kanan dan kirinya, tepatnya jari telunjuknya diarahkan untuk menekan papan ketik laptop miliknya, sesekali dirinya membuka lembaran kertas dan buku disamping kiri dan mencatat beberapa kata dengan gerakan lambat, mungkin sebagai pengingat atau hal penting berkaitan dengan skripsinya.
Hampir 10 menit berselang, Dian mengakhir pekerjaannya, mungkin memberi kesempatan kepada saya untuk mewawancarainya.
“Bisa saya tanyakan beberapa hal ?” tanya saya kepada Dian yang saat itu mengenakan baju kaos lengan Panjang berwarna hijau.
Dian hanya menjawab dengan singkat, “ya” seraya menganggukkan kepala penanda dia bersedia.
Singkatnya, Dian menyebut keterbatasan fisik dialaminya sejak lahir pada 29 tahun lalu dan dirinya mengaku menjadi seorang yang pemalu dan penyendiri, mungkin karena kondisi fisiknya yang tidak normal seperti orang disekitarnya.
Namun waktu berselang, dirinya memberanikan diri bergaul dan rasa percaya dirinya mulai membaik. Bahkan, saat tamat pada sebuah Sekolah Luar Biasa, (SLB) Dian menyampaikan keinginan dirinya untuk kuliah, orangtuanya pun menyetujui dan mendukung keinginannya.
Masa kuliah dilaluinya hingga saat ini memasuki tahun ke 5, dirinya menargetkan meraih gelar sarjananya tahun 2023 ini.
Tak ada kendala saat proses kuliah dan menerima materi di bangku mahasiswa, namun terkadang dia mengelukan saat mengerjakan tugas dan tugas akhirnya karena gerakan nya tak secepat temannya yang normal, tapi hal tersebut tidak membuat Dian menyerah.
Tekadnya bulat, bisa berbakti bagi orang tua dan membahagiakan keluarnya sudah cukup baginya.
Meski fisiknya terbatas, Dian tak tinggal diam saja setelah urusan kuliahnya selesai,saya diajak untuk melihat kebun yang dia kelola, tak jauh dari tempat kami ketemu. Hanya membutuhkan sekitar 40 langkah untuk tiba di kebun yang ia garap.
Dian sempat meraih sebuah cangkul dengan tangan kanannya, Panjang gagang cangkulnya sekitar 1 meter.
Dilahan yang ia garap sendir sekitar 7 x20 meter tersebut, tempak sejumlah tanaman yang tumbuh, ubi kayu, Nangka, pisang, ubi jalar adaah tanaman yang sempat sayan rekam dalam ingatan kala itu.
Membersihkan rumput, mencangkul bedengan dan menyiram tanaman adalah hal rutin yang dilakukan dian saat ke kebun nya.
Hasil dari kebun nya pun bahkan ada yang di Jual, meski Dian mengaku aktivitasnya hanya untuk mengisi waktu saja.
Usai berkebun, jelang petang Dian bergegas untuk pergi menjaga parkiran disebuah toko bangunan yang tergolong besar di Merauke, tujuan utamanya bukan untuk menghasilkan uang dari berjaga parkiran, namun untuk berkumpul bersama teman disabilitas lainnya untuk saling memotivasi .
Tak hany itu, dia juga punya kepedulian terhadap gerakan social, beberapa waktu setelah mewawancarai dian saya menemukan dia terlibat dalam sebuah aksi social menanam pohon mangrove di Pantai Payum Merauke.
Dian yang bercita cita untuk menjadi seorang guru, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan menjadi alas an untuk tidak berjuang demi meraih mimpi. *****







