Lensamerauke.com – Kota Merauke merupakan salah satu pusat distribusi penjualan produk pangan lokal wilayah Papua dimana ditemukan produk lokal seperti madu yang berasal dari wilayah di luar kota Merauke seperti Yanggandur dan Wamena. Dengan letak geografis lumayan jauh dari wilayah produksi madu, cara pengolahan dan lama penyimpanan menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi kualitas fisik dan kimia dari madu produk lokal Papua.
Seperti kita ketahui, Madu merupakan salah satu produk hasil budidaya/beternak spesies lebah madu yang memiliki manfaat bagi kesehatan manusia. Secara biologi madu merupakan cairan alami berasal dari nektar bunga atau bagian lain dari tumbuhan yang dikumpulkan pekerja lebah madu pada saat foraging dan kemudian disimpan di dalam sel madu sarang lebah. Madu lokal Papua merupakan madu yang diproduksi oleh lebah lokal yang memanfaatkan bagian bunga tumbuhan lokal dan dipanen oleh masyarakat lokal Papua.
Melalui Dana Internal Universitas Musamus Merauke yakni Penelitian Dosen Pemula yang diketuai Desmina Kristiani Hutabarat, S.Si., M.Si., anggota Silas Tanggu Redu, M.P dan dibantu mahasiswa/I Prodi Peternakan Universitas Musamus sudah melakukan sampling madu lokal Papua yang dijual sekitar kota Merauke secara random sampling.
Uji kualitas madu lokal Papua yang diamati Adalah derajat keasaman (ph), kadar air dan brix. Penelitian ini mengungkapkan bahwa Madu yang berasal dari Wamena memiliki kualitas madu sesuai dengan SNI Madu 2004 untuk ketiga parameter.
Madu yang berasal dari Jagebob dan Yanggandur perlu mendapatkan penanganan tambahan lagi setelah pemanenan karena memiliki kadar air tinggi diatas 26% namun konsentrasi Brix sudah sesuai SNI 2004. Selain itu penelitian ini memberikan informasi bahwa warna madu lokal produksi Yanggandur dan Jagebob berwarna kehitaman yang menunjukkan tinggi kandungan pigmen, polifenol dan mineral.
Dari riset ini, diharapkan perlu adanya optimalisasi kualitas madu lokal dengan melakukan berbagai perlakuan tambahan supaya dapat mengurangi kadar air tanpa menurunkan Brix dan Ph agar nantinya madu lokal Papua dapat berdaya saing dengan madu lokal daerah lainnya.
Terimakasih kepada LPPM Universitas Musamus atas pendanaan penelitian ini dan terimakasih kepada Laboratorium Pertanian Universitas Musamus sebagai tempat dilakukannya penelitian ini, serta kepada adik mahasiswa/I Prodi Peternakan yakni Risa, Martha Porsiana, Stefanus, Alvian, Azis Hutabarat dan Yohannes Taruk Gebse.






