Merauke – Untuk mendukung ketahanan pangan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), Tim Dosen Universitas Musamus yang diketuai oleh Diana S. Susanti mengedukasi keluarga untuk memanfaatkan lahan pekarangan menjadi lebih produktif. Kegiatan yang mengusung tema “Pemberdayaan Keluarga melalui Pengembangan Kebun Pangan Berkelanjutan Berbasis Pekarangan untuk Mendukung Ketahanan Pangan dan Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)” ini melibatkan 50 peserta yang terdiri atas Persekutuan Wanita dan Persekutuan Anggota Muda dalam Jemaat GKI Euangelion, di Kampung Kuprik, Distrik Semangga Merauke pada Sabtu 26 September 2026.
“Tujuan kegiatan ini salah satunya adalah, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu sebagai penggerak utama ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan untuk menghasilkan pangan secara mandiri,” jelas Diana yang ditemui di sela kegiatan tersebut.
Diana, yang juga dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Musamus ini, menjelaskan bahwa dalam program ini pihaknya juga memperkenalkan teknik budidaya yang dapat diterapkan pada lahan terbatas, seperti raised bed, penanaman dalam wadah, irigasi tetes sederhana, dan pemanfaatan bahan organik. Pihaknya, juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal, seperti kotoran ternak, sekam, dan bahan organik, sebagai input yang bermanfaat bagi tanaman.
“Kami berharap, keluarga tetap dapat memproduksi sebagian kebutuhan pangan rumah tangga meskipun tidak memiliki lahan pertanian yang luas. Kami juga berkolaborasi bersama anggota muda agar dapat membantu untuk menjelaskan dan menerapkan teknologi yang belum dipahami mama-mama peserta kegiatan ini,” tuturnya.
Kegiatan ini, lanjutnya, dirancang melalui dua tahapan yaitu sosialisasi untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis secara teori kepada masyarakat dalam mengoptimalkan lahan yang tersedia di sekitar rumah, dan kegiatan praktik, dengan memberikan ketrampilan bahwa keterbatasan luas pekarangan tidak menjadi penghalang karena budidaya dapat dilakukan dengan berbagai alternatif.
Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pemanfaatan pekarangan untuk menghasilkan pangan yang dapat mendukung kebutuhan keluarga. Selain itu, peserta juga diajak untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar sehingga kegiatan budidaya tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan yaitu praktik pembuatan pupuk organik dari kotoran sapi, demonstrasi plot (demplot) tanaman pangan, teknologi sederhana untuk efisiensi air, dan perbanyakan tanaman sirih dengan metode stek batang. Diana mengatakan, pemanfaatan limbah organik kotoran ternak seperti kotoran sapi ini menjadi bagian penting dalam pertanian berkelanjutan.
Masyarakat tidak hanya belajar menghasilkan pupuk secara mandiri, tetapi juga memperoleh pemahaman bahwa bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian rumah tangga. Demplot menjadi sarana pembelajaran langsung bagi masyarakat untuk melihat dan mempraktikkan tahapan budidaya tanaman, mulai dari persiapan media tanam, penanaman, hingga pemeliharaan. Adapun penanaman yang dilakukan adalah benih bayam dan kangkong, terong dan ubi jalar.
Selanjutnya, ditambahkan dengan penggunaan irigasi tetes yang bertujuan untuk efisiensi air. Irigasi tetes sederhana menggunakan botol kemasan bekas. Teknologi sederhana tersebut menjadi salah satu alternatif penyiraman yang dapat diterapkan pada budidaya tanaman di pekarangan. Penggunaan botol bekas sebagai bagian dari sistem irigasi sekaligus memperkenalkan prinsip pemanfaatan kembali barang yang sudah tidak digunakan. Air diberikan secara perlahan ke sekitar tanaman sehingga peserta memperoleh alternatif teknik penyiraman yang relatif sederhana dan dapat dibuat dengan bahan yang mudah ditemukan.
Sirih menjadi komoditas penting dalam kehidupan masyarakat Papua. Selain digunakan dalam tradisi menyirih, sirih juga digunakan sebagai bahan pembuatan obat tradisional, sehingga perlu diberikan informasi dan teknik stek batang yang benar agar memperoleh jumlah tanaman yang banyak dan dapat dilakukan secara berulang.
Partisipasi aktif peserta selama kegiatan menunjukkan adanya ketertarikan untuk mengembangkan pemanfaatan pekarangan dan mengelola sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar. Berdasarkan evaluasi kegiatan, 100% peserta menunjukkan pemahaman dan ketertarikan untuk menerapkan pengetahuan dan praktik yang telah dilakukan di pekarangan rumah masing-masing.
Pemanfaatan pekarangan diharapkan dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Dengan menggabungkan budidaya tanaman pangan, pemanfaatan limbah organik, penggunaan teknologi sederhana, dan pengelolaan sumber daya lokal, pekarangan dapat menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang lebih mandiri pangan sekaligus berkontribusi pada pencapaian pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, kegiatan pengabdian ini juga menjadi ruang interaksi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Universitas Musamus melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berkomitmen untuk terus mendorong penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pemanfaatan pekarangan menjadi salah satu contoh bahwa langkah sederhana di tingkat keluarga dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam mendukung ketahanan pangan dan pencapaian SDGs.









