Lensa Merauke – Tim Universitas Musamus (Unmus) yang dipimpin oleh dosen Fakultas Pertanian Amelia Limbongan, melatih Masyarakat adat Marind untuk membuat pestisida nabati berbasis sumber daya lokal limbah cair serai wangi (Cymbopogon nardus). Pelatihan yang diikuti oleh 21 peserta ini, diselenggarakan di Balai Kampung Matara, Distrik Semangga, Selasa (01/09) .
“Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat adat Marind dalam pembuatan pestisida nabati berbasis sumber daya lokal, serta meningkatkan kesadaran mereka terhadap pertanian ramah lingkungan dan pemanfaatan limbah lokal,” jelas Amelia yang ditemui di sela pelatihan yang didanai oleh Program Pengabdian DIPA Unmus, skema Pengembangan Desa Mitra tersebut.
Amelia menjelaskan bahwa kondisi geografis wilayah pesisir dengan tingkat kelembapan yang tinggi menyebabkan sektor pertanian masyarakat rentan terhadap serangan organisme pengganggu tanaman (OPT), terutama pada tanaman pekarangan. Sementara, lanjutnya, dalam praktik budidaya, masyarakat masih bergantung pada penggunaan pestisida kimia sintetis yang relatif mahal, sulit dijangkau secara berkelanjutan, dan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan masyarakat maupun lingkungan pesisir apabila digunakan secara terus-menerus.
“Di sisi lain, masyarakat belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam memanfaatkan sumber daya lokal dan limbah pertanian menjadi produk ramah lingkungan yang
bernilai ekonomis,” tambahnya.
Menurut Amelia, salah satu potensi lokal yang mulai berkembang di wilayah Merauke adalah pemanfaatan serai wangi sebagai bahan penghasil minyak atsiri. Proses penyulingan serai wangi
menghasilkan limbah cair berupa hidrosol atau limbah cair serai wangi yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan umumnya hanya dibuang.
“Padahal, limbah cair serai wangi ini, masih mengandung senyawa aktif aromatik yang berpotensi digunakan sebagai pestisida nabati dan repellent alami terhadap beberapa jenis hama tanaman,” ujarnya.
Lebih lanjut, Amel menuturkan bahwa berdasarkan hasil kegiatan pengabdian di tahun sebelumnya (skema PKM BIMA Kemendiktisaintek, 2025), limbah cair serai wangi memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi pestisida nabati sederhana yang lebih aman bagi lingkungan dan dapat diproduksi secara mandiri oleh masyarakat. Oleh karena itu, pengembangan pestisida nabati
berbasis limbah cair serai wangi menjadi sangat relevan diterapkan pada masyarakat adat pesisir Marind di Kampung Matara sebagai upaya mendukung pertanian ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah lokal di Distrik Semangga.
Selain pembuatan pestisida nabati, tim yang beranggotakan Sri Murniani Letsoin dan Romualdus Maro Djanggo ini juga membekali masyarakat dengan pemanfaatan media digital, media sosial, maupun platform pemasaran digital yang dapat menjadi peluang penting bagi masyarakat pesisir dalam memperkenalkan produk lokal, memperluas akses pasar, serta mendukung pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal secara berkelanjutan.
“Oleh karena itu, program pengabdian ini dirancang tidak hanya berfokus pada pelatihan pembuatan pestisida nabati berbasis limbah cair serai wangi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas
masyarakat dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana promosi dan pemasaran produk pertanian dan perikanan mereka guna mendukung peningkatan ekonomi,” pungkas Amelia.








