24 Juni 2024
Share

 Gerakan Menoken terus dilebarkan jejaringnya oleh Lembaga Papua Paradise Centre, kali ini diperluas hingga ke perbatasan Negara Republik Indonesia dengan Papua Nugini.

Jarak kurang lebih 80 Kilometer dari Merauke,  Ibu Kota Provinsi Papua Selatan tak menyurutkan semangat para penoken untuk merajut jejaring

Dengan Kendaraan roda dua, perjalanan dimulai dengan menyusuri sepanjang jalur Trans Papua yang masuk ke dalam wilayah Taman Nasional Wasur.

Sepanjang perjalanan,  disuguhkan dengan aroma segar paduan berbagai flora khas taman nasional , sebut saja yang umum pohon kayu putih dan kayu bus (entah apa nama latinhya tapi kayu bus menjadi sebutan bagi warga Merauke untuk pohon yang kulitnya dijadikan atap pondok pengganti seng  bagi warga asli Papua di wilayah ini ).

Di sepanjang perjalanan juga, karena berangkat di hari minggu, Jalan Trans Papua menjadi ramai, pasalnya, saluran air di sisi jalan ternyata dimanfaatkan warga Merauke untuk mengisi akhir pekan mereka dengan camping di sepanjang jalur.

Sejumlah warga memanfaatkan limpahan ikan dari saluran air untuk dijaring, lalu hasilnya disantap bersma usai dibakar..

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, kami tiba di Bevak Pokos, milik seorang pelaku UMKM yang memanfaatkn potensi hasil hutan bukan kayu menjadi produk umkm

Ini memang menjadi lokasi Gerakan, dan calon steward yang diajukan ke Program Samdhana.

Menurut Koordinator Samdhana Wilayah Papua, Roki Alosius,Gerakan Menoken merupakan sebuah kegiatan nonformal yang dikemas dengan cara sederhana, Menoken sendiri umumnya  berisi kegiatan bertukar cerita hingga menjalin solidaritas.

”Menoken adalah kegiatan yang selalu bersifat informal, fleksibel, mengutamakan persahabatan, berkumpul, kemping, memasak serta makan bersama. Selain itu, bertukar cerita dan pengetahuan, menyanyi, menari dan menikmati seni budaya bersama, menjalin semangat serta solidaritas dan lain-lain,” Ujar Roki.

Siang itu, Hesty pengelola bevak pokos menyambut para penoken di sebuah bevak di belakang rumahnya.

Hembusan angin Taman Nasional Wasur menjadi pelengkap suasan pertemuan siang itu. Di bawah bevak beratapakan kulit kayu Bus luasnya sekira 4x 5 meter.

Tak lama berselang, penganan lokal ubi kayu dan teh  sarang semut disuguhkan kaka hesti mengiringi  proses menoken berlangsung.

Ketua Papua Paradise Centre, Marten Ayub Lutermasse mengawali proses gerakan menoken saat itu dengan perkenalan, dan dilanjutkan dengan pemaparan soal gerakan menoken kepada Hesty.

Hesty merupakan seorang anggota penoken   baru yang menjadi bagian dalam proses gerakan menoken di Papua Selatan, meski sebelumnya telah saling terhubung berkat aktivitas yang dilakukan oleh Hesty.

Selain Hesti di lokasi sama gerakan menoken juga dilakukan di rumah salah seorang warga asli Papua bernama Frangki Ndiken.

Franky merupakan seorang pemuda yang sebelumnya giat melakukan pelestarian budaya lewat kerajinan aksesoris adat yang mreka lakukan.

Franky juga menjadi anggotapenoken baru, dengan harapan melalui saling berbagi isi noken franky dan komunitasnya kembali giat melakukan upaya pelestarian budaya, utamanya budaya di wilayah perbatasan Republik Indonesia dengan Papua Nugini.

Kegiatan menoken di wilayah perbatasan ini mendorong para penoken baru  dalam mengembangkan kegiatan kegiatan pelestarian lingkunan dan budaya utamanya di wilayah perbatasan negara Republik Indonesia dengan Papua Nugini .