26 Juni 2024
Share

Lensa Merauke – Bencana tahunan Banjir Rob kembali melanda Merauke di pertengahan Maret 2024, Namun tahun ini tak seperti  biasanya dampak yang ditimbulkan lebih besar dari tahun sebelumnya.

Tercatat setidaknya 7 rumah rusak akibat bencana ini, belum lagi ratusan warga yang harus diungsikan untuk mengantisipasi dampak lebih besar yang ditimbulkan.

Sehari usai hari pertama dampak banjir Rob, warga yang mendiami pesisir Merauke terlihat sibuk di sepanjang Pantai.

Terlihat beragam aktivitas warga dari membuat tanggul penahan ombak darurat, merapikan dan memperbaiki perahu, membersihkan puing banjir rob dan berbagai kegiatan lainnya.

Kondisi parah dialami oleh warga yang tinggal langsung di bibir Pantai yang berhadapan langsung dengan gelombang air laut  setiap harinya.

Kerusakan dialami sejumlah rumah, paling parah 1 rumah warga hilang disapu ombak. Beruntung tak ada korban jiwa.

Namun, berbeda halnya dengan pesisir yang berada dibalik hutan mangrove, meski merasakan dampak air meluap namun ancaman kerusakan properti tak menyentuh para warga.

Seorang penggiat lingkungan dari Lembaga Papua Paradise Centre Marten Ayub Luturmasse mengatakan ancaman cuaca buruk untuk warga di wilayah pesisir akan semakin meningkat jika hal ini tidak ditangani sesegera mungkin.

Melihat kejadian yang melanda Merauke baru-baru ini, dirinya menyebut sedih dan kecewa dengan situasi yang melanda.

Menurutnya, abrasi terus terjadi dan semakin meluas di sepanjang pesisir Merauke, terlepas dari kebiasaan penggalian pasir untuk dijual demi kebutuhan hidup. Namun upaya-upaya konservasi harus terus dilakukan.

Penyelamatan pesisir dengan pengembangan mangrove menurut Ayub merupakan sebuah Solusi yang bisa dilakukan.

Kemampuan Mangrove untuk melindungi pesisir dari abrasi sudah terbukti dengan keistimewaannya yang mampu menjadi tanggul alami   untuk mencegah abrasi dan menahan gelombang air laut.

Selama ini, upaya yang mereka lakukan untuk penyelamatan pesisir terkesan tak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah, bahkan warga pesisir sendiri.

Sejumlah kegiatan penanaman mangrove yang mereka gelar kadang tak mendapat persetujuan dari warga karena dinilai akan mengganggu aktivitas warga jika terlalu dekat dengan permukiman.

Belum lagi sejumlah kegiatan penanaman mangrove yang dilakukan hanya sebatas seremonial saja, hanya melakukan  penanaman  tanpa melakukan perawatan.

Ayub menyebut upaya upaya ini perlu perhatian dan dukungan dari para pihak, tak hanya pemerintah saja juga masyarakat.***