19 Februari 2024
Share

Lensa Merauke – Siang itu, panas yang terik menyengat membuat  saya bersama 3 jurnalis lainnya berteduh sambil memanjakan tenggorokan di Kantin Universitas Musamus.

Belum lama duduk, melintas seorang pria dengan cara berjalan yang berbeda dari yang lainnya. Butuh bantuan kedua tangannya untuk menapak di tanah (jalan) agar mampu berpindah dari satu tempat menuju tempat lainnya.

Salah satu teman kami berpikir apakah pria yang lewat itu adalah seorang mahasiswa Universitas Musamus? jika benar, sungguh perjuangan yang luar biasa untuk menempuh pendidikan dengan kondisi seperti yang dialaminya.

Kami tertarik untuk mengetahui kisahnya lebih jauh, tak lama berselang dua teman berdiri dan menyambangi pria yang kami maksud, mengajak bergabung menyeruput segelas kopi sambil mendengarkan kisahnya.

Dirinya setuju untuk memperkenalkan diri dan berbagi kisah hidupnya, kami pun sigap memasang alat perekam bawaan telpon seluler, untuk merekam satu persatu kata yang keluar dari mulutnya.

Dirinya pun memperkenalkan diri sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir dari Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Musamus Merauke. Namanya Yohanis Odu Peragi.

Mahasiswa yang akrab disapa dengan John ini datang dari Kampung Katage, Distrik Haju, Kabupaten Mappi. John langsung meninggalkan kampung halaman begitu menyelesaikan pendidikan tingkat menengah atas.

Bermodal beasiswa Bidik Misi, dirinya nekat merantau ke Merauke untuk masa depan lebih baik, meski dengan kondisi fisik yang terbatas.

Pria kelahiran 1998 ini, mengalami gangguan fisik pada kakinya sejak berumur 5 tahun akibat terkena penyakit Polio.

Kondisi tersebut mengharuskan dirinya menggunakan kedua lengannya untuk bantuan berjalan karena kedua kakinya tak sanggup lagi menopang dan membantu dirinya untuk berjalan secara normal.

Karena kondisi itu, otot lengannya terbentuk bak seorang atlet binaraga, otot tangannya yang terbentuk membuat lengan bajunya terlihat sempit.

John memperlihatkan kondisi telapak tangannya akibat digunakan untuk berjalan

Namun, akibat menumpu di jalan dengan telapak tangan, telapak tangannya menjadi kasar dan tebal, sejumlah tonjolan besar tampak di telapak tangan yang diperlihatkan kepada kami.

Tetapi bagi John, keterbatasan fisik itu bukan halangan untuk bisa maju, berkembang dan meraih mimpinya untuk bisa menjadi lebih baik. Ia tak mau pasrah dan menyerah dengan kondisi fisiknya yang terbatas dengan berpangku tangan menunggu uluran tangan.

Tidak sedikitpun rasa minder dan tidak percaya diri yang timbul dalam benaknya. Dirinya yakin, Tuhan tidak tinggal diam melihat usaha baik yang dia lakukan, terlebih dirinya tidak pernah dan tidak mau terjerumus dengan hal hal negatif.

Rintangannya pun tak sampai di situ saja, karena kondisi ekonomi yang dialaminya, sejumlah kebutuhan perkuliahan seperti laptop tidak mampu juga dimilikinya, namun John tidak berputus asa.

Beruntung, rekan sesama mahasiswa di jurusannya tak sungkan membantu meminjamkan laptop untuk belajar dan menyelesaikan tugas kuliah.

Tak jarang dirinya juga ditawari untuk diberikan tumpangan pulang kerumahnya di jalan Kelapa Lima, begitu jam perkuliahan usai.

Saat bercerita, senyuman selalu terukir dari bibir, dan posisi duduknya selalu tampak tegap semangat.

Bagi John, ketika berhasil menyelesaikan kuliahnya dan memperoleh pekerjaan apapun sesuai bidang ilmu dan keahliannya merupakan sebuah mimpi dan patut disyukuri.

Sementara, salah seorang adik angkatan John yang akrab disapa Fika menuturkan keseharian John saat dirinya berada di kampus.

Menurut Fika, semangat John untuk berkuliah patut diacungi jempol, pasalnya tidak semua orang yang mengalami ketebatasan fisik mau untuk berjuang sekeras kakak angkatannya.

Bahkan masih banyak diluar sana yang kondisi fisiknya sempurna namun tidak mau berjuang untuk mencapai tujuan hidup yang lebih baik.

Terima kasih John, sudah berbagi cerita, dan memberi inspirasi bagi  pembaca, saya khususnya.